selamat datang

PUSAT INFORMASI
PORTAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI LENTERAHATI
MENDIDIK DENGAN HATI DAN KETULUSAN
======KEUNGGULAN KAMI======

keunggulan

1)Dengan Kurikulum Multiple Intellegence, 2) Pendekatan Karakter Islami, 3)Mengembangkan Bakat Dan Minat Anak, 4)Fasilitas Modern dan Lengkap, 5)Pembelajaran In Class dan Outing Class, 6) Didampingi Psikolog Dan Konselor, 7) Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Sabtu, 08 September 2012

4 Jurus Penangkal Kelemahan Ortu

4 JURUS PENANGKAL KELEMAHAN ORANG TUA
Oleh Muazar Habibi

Orang tua mana pun pastilah tak luput dari kekurangan dan kelemahan. Dengan menerapkan 4 jurus jitu, kelemahan bisa dikikis dan anak-anak pun bisa tumbuh optimal.

Kekurangan atau kelemahan orang tua tidak selayaknya dinilai dari kekurangan fisik yang ada. Kalau ayah atau ibu memiliki cacat fisik hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mengemban peran luhur dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Justru yang patut dinilai sebagai kelemahan, menurut Elly Risman Psi., selain ketidaksiapan orang tua adalah hal-hal yang berkaitan dengan tidak adanya kerja sama antara ayah dan ibu, perencanaan keluarga, pengetahuan mengenai perkembangan anak, dan penerapan moral-disiplin.

Coba deh ingat-ingat, biasanya saat akan melangsungkan pernikahan, calon pengantin justru lebih sibuk menyiapkan ini-itu yang bersifat material seperti pesta mewah dan segala perabot baru pengisi rumah mereka. Sebaliknya persiapan mental untuk mengarungi biduk rumah tangga seolah terabaikan. Semisal, "Siapkah aku menjadi seorang istri/suami?" atau "Apa saja yang harus kupersiapkan agar bisa menjadi ibu/bapak yang baik bagi anak-anakku?" Inilah 4 hal pokok yang harus diketahui agar kita bisa mengasuh anak secara optimal.

Kerja Sama Ibu-Ayah
Anak haruslah mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Untuk bisa mengemban tugas ini, ayah dan ibu mesti punya kepentingan bersama sekaligus mampu menjalin kerjasama yang solid bagi buah hati mereka. Itulah mengapa, ujar psikolog yang akrab disapa Elly ini, jauh sebelum anak lahir, calon ayah dan ibu sudah harus punya rumusan yang dipahami dan disanggupi oleh kedua belah pihak mengenai pendidikan, termasuk pola asuh yang akan diterapkan pada anak mereka.

Konkretnya, akan diarahkan ke mana si anak dan bagaimana caranya. Untuk bisa membuat rumusan pola asuh ini, jauh-jauh hari sebelumnya ayah dan ibu sudah harus punya persiapan mental disamping persiapan fisik.

Perencanaan Matang
Sama seperti poin sebelumnya, di sini tetap diperlukan kerja sama antara ibu dan ayah. Suami istri harus punya perencanaan, dari soal berapa jumlah anak yang diinginkan, sampai aspek biaya dan sarana serta prasarana penunjang yang harus disiapkan demi tercapainya cita-cita menjadikan anak tumbuh optimal. Perencanaan ini idealnya bukan baru dimunculkan saat si bayi lahir, melainkan jauh-jauh hari sebelumnya. Dalam perencanaan ini harus dimasukkan pula rencana untuk memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya kepada anak yang berarti menuntut penyediaan anggaran tertentu. 

Itulah mengapa, tandas Elly, tekad untuk mengarahkan anak berkembang secara optimal mau tidak mau menuntut orang tua tidak berpikiran sempit hanya terfokus pada dirinya sendiri. Semisal hanya mengutamakan perhiasan, perabot rumah atau membeli rumah dan kendaraan kedua atau malah ketiga. Lalu kalau semua benda tadi sudah didapat, masih sempatkah mencurahkan waktu sepenuhnya untuk memperhatikan anak-anak?

Pengetahuan Mengenai Perkembangan Anak
Orang tua harus melek pengetahuan mengenai perkembangan anak. Kalau tidak, mana bisa ia diharapkan mengenali tahapan-tahapan perkembangan yang dilalui anaknya. Salah-salah ayah atau ibu memperlakukan anak secara tidak patut. Padahal dalam mengemban tugas sebagai orang tua, dua faktor perkembangan anak yakni usia kalender dan keunikan jiwa masing-masing anak tidak boleh luput dari pengamatan ayah dan ibu.

Contohnya, orang tua membiarkan saja anak batitanya berlaku pasif karena asyik nonton teve seharian tanpa adanya pemberian stimulasi konkret yang seharusnya dapat mengasah kemampuannya. Entah itu kemampuan motorik, kognitif, ataupun afektif, dan kemampuan verbal. Orang tua bersikap demikian semata-mata karena menganggap anak seusia ini belum mengerti apa-apa. "Padahal usia 0 hingga 3 tahun merupakan masa-masa pesat pertumbuhan otak," ujar Elly.

Menurutnya, orang tua tidak bisa menutup mata terhadap tahap perkembangan anak, dari perkembangan otak, fisik, sampai perkembangan sosial yang harus mendapat stimulasi terus-menerus berdasarkan kemampuan di usianya. Bagaimana dan seberapa besar porsi stimulasi yang pas hanya bisa dicermati berdasarkan tahapan usia dan keunikan masing-masing individu. Contohnya adalah anak usia 12-18 bulan sudah harus bisa berjalan, di usia 4 tahun sudah bisa makan sendiri, dan di usia 6 tahun sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri. "Kalau ada orang tua yang masih menyuapi anak usia 6 tahun, itu namanya melecehkan kemampuan si anak. Kalau tindak pelecehan ini dilanjutkan, kapan anak bisa berkembang optimal?"

Elly menganjurkan agar orang tua tidak pernah merasa lelah untuk terus berburu pengetahuan mengenai perkembangan anak. Toh sumbernya bisa dari mana saja, baik buku, majalah, koran, tabloid, seminar, pertemuan informal, sampai internet. Anggapan bahwa kecerdasan hanya terpatok pada skor IQ saja paling tidak bisa dikoreksi. Lantas, pemahaman akan berbagai aspek kecerdasan akan mendorong orang tua untuk menggali segala potensi yang dimiliki anaknya.

Penerapan Moral dan Disiplin
Menurut Elly, sebetulnya ketidaktahuan/kekurangan orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap anak disebabkan minimnya awareness (kesadaran), knowledge (pengetahuan), attitude (sikap), dan practice (penerapan) atau AKAP. "Sekalipun orang tua harus berada di atas kursi roda, kalau dia memiliki AKAP, dia mampu kok menerapkan pola asuh yang benar agar perkembangan anaknya bisa optimal."

Lain soal kalau kekurangan tersebut mencakup aspek iman, mental, dan moral alias tidak menghadirkan Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. "Jangankan berkembang optimal, kekurangan di bidang ini sih jelas-jelas bisa menjerumuskan anak." Selain itu, kedisiplinan mesti ditanamkan sejak dini. Bila tidak, di usia 8 tahunan ke atas, giliran anaklah yang akan "menguji" orang tuanya karena di usia itu anak mulai memasuki tahap kritis sekaligus pemberontakan.

Elly mengingatkan bahwa penerapan disiplin sudah bisa dilakukan sejak anak masih bayi. Mulailah dari hal-hal yang sangat sederhana semisal membiasakan anak mandi, makan dan tidur tepat waktu, buang air besar dan kecil di tempat tertentu dan pada jam-jam tertentu, serta melatih anak membereskan mainannya setaip kali usai bermain.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan & Saran Kami Butuhkan. Terimakasih

PETUNJUK MENU
gif maker