Logo Design by FlamingText.com

gif maker

selamat datang

PUSAT INFORMASI
PORTAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI LENTERAHATI
MENDIDIK DENGAN HATI DAN KETULUSAN
======KEUNGGULAN KAMI======

keunggulan

1)Dengan Kurikulum Multiple Intellegence, 2) Pendekatan Karakter Islami, 3)Mengembangkan Bakat Dan Minat Anak, 4)Fasilitas Modern dan Lengkap, 5)Pembelajaran In Class dan Outing Class, 6) Didampingi Psikolog Dan Konselor, 7) Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

DAMPAK NEGATIF KETIDAKSIAPAN ORANG TUA

 DAMPAK NEGATIF KETIDAKSIAPAN ORANG TUA
Oleh Muazar Habibi

Tidak mudah menjadi orang tua. Namun dengan tekad kuat dan kemauan keras, semua orang berpeluang menjadi orang tua yang ideal. Bagaimana kalau tidak?

Tak bisa dipungkiri bahwa pola asuh yang tidak tepat akan membuahkan perkembangan anak yang tidak optimal. Anak tumbuh jadi pribadi agresif, tidak bisa mandiri, dan tipis rasa percaya dirinya. Menurut Evi Elviati, Psi., banyak hal yang menjadi faktor penyebabnya. Salah satunya adalah ketidaksiapan orang tua mendapatkan buah hati.

Seberapa jauh soal ketidaksiapan orang tua memperoleh anak perlu ditelusuri jauh ke belakang sebelum mereka menikah. Umumnya mereka tidak tahu atau tidak memikirkan secara matang bagaimana rencana jangka panjang setelah menikah. Semisal apakah mau punya anak atau tidak. Lalu jika ya, kapan sebaiknya memiliki anak. Apakah segera setelah menikah, ataukah ditunda lebih dulu sampai mereka merasa mapan, baik secara mental maupun finansial.

PEMICU KETIDAKSIAPAN
Secara mental ketidaksiapan orang tua bisa dipicu oleh beberapa penyebab, seperti umur orang tua yang terlalu muda, masih sekolah/kuliah, serta tidak tahu bagaimana caranya mendidik anak. Sementara dari faktor finansial umumnya lebih karena kondisi keuangan keluarga yang belum mendukung. Entah suami belum punya pekerjaan tetap, suami/istri sedang sibuk mengejar karier, melanjutkan pendidikan, ataupun sudah punya banyak anak. Semua hal tersebut bisa menjadi pemicu ketidaksiapan orang tua menerima kehadiran si kecil di tengah-tengah mereka, apalagi mendidiknya.

Padahal ketikdaksiapan ini akan berbuntut panjang. Pasangan suami istri seperti ini jadi tidak pernah mandiri. Pasalnya, mereka akan selalu menggantungkan segala sesuatunya pada orang tua mereka dalam pengasuhan si kecil. Jika ketergantungan tersebut dalam batas-batas wajar mungkin tidak terlalu jadi masalah. Artinya, kakek-nenek si kecil hanya merupakan pihak yang dimintai bantuan untuk sementara waktu.
Saat merawat si kecil, contohnya, pasangan muda memerlukan figur tempat bertanya. Nah, orang tua sebagai sosok yang telah banyak makan asam garam alias lebih berpengalaman tentu bisa dijadikan tumpuan. Idealnya, setelah belajar banyak dari orang tuanya, pasangan muda ini haruslah tetap belajar merawat anaknya sendiri.

AKIBAT KETERGANTUNGAN BERLEBIH
Jika ayah dan ibu memiliki ketergantungan berlebih pada kakek-nenek tanpa mau belajar sedikit pun bagaimana caranya merawat dan mengasuh anak, orang tua sendirilah yang sebetulnya bermasalah. Apalagi jika bantuan yang diberikan tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga bantuan finansial. Jika kebiasaan tidak sehat semacam ini dibiarkan, dikhawatirkan kemandirian pasangan sebagai orang tua pun jadi terhambat. Sementara pasangan suami istri juga tidak terbebas dari bayang-bayang orang tuanya.

Konsekuensinya, pola asuh yang diterapkan mau tidak mau lebih "berbau" konsep kakek-neneknya dan bukannya pola asuh si orang tua. Namun ketergantungan berlebih ini sering membuat pasangan muda enggan protes karena sungkan. Kalau mereka protes, mungkin saja kakek-nenek akan melepaskan cucunya tanpa pengasuhan sama sekali yang justru membuat pasangan muda ini kelabakan.

Akibatnya, sangat mungkin terjadi inkonsistensi dalam pengasuhan karena orang tua tidak berani mengoreksi pola asuh kakek-nenek. Apa yang dilarang orang tua, contohnya, justru dibolehkan oleh kakek-neneknya. Sementara si anak sendiri pun akan bingung, mana yang benar dan perlu diikutinya serta mana pula hal yang salah.

AKIBAT PEMAHAMAN SALAH
Ketidaksiapan orang tua mengasuh anak, bisa juga disebabkan oleh minimnya wawasan orang tua terhadap pola asuh yang baik. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perkembangan anak, menyebabkan ia tidak tahu pola asuh terbaik buat anak-anaknya.

Psikolog dari Essa Consulting Group ini menambahkan, minimnya wawasan tentang perkembangan anak, ditambah ketidaksiapan menjadi orang tua, akan membuat orang tua memiliki pemahaman salah. Salah satunya adalah menganggap anak sebagai miniatur manusia dewasa. Anak diperlakukan layaknya orang dewasa. Aturan yang dibuat pun tak jarang sama persis bagi orang dewasa. Tak heran banyak orang tua yang memberlakukan sanksi fisik yang keras buat anak.

Pendek kata, anak tidak diperlakukan sebagaimana fitrahnya untuk tumbuh dan berkembang melalui tahapan-tahapannya. Masing-masing menyimpan berbagai hal unik. Pemahaman yang salah membuat anak jadi tidak bebas bermain ataupun melakukan "kenakalan-kenakalan" yang wajar. Anak jadi kurang belajar karena bagaimana ia bisa tumbuh optimal jika lingkungan terdekatnya tidak mendukung. Padahal anak tidak secara otomatis bisa tumbuh mandiri menjadi dewasa. Ia butuh proses belajar dan orang tualah yang mesti mendidik dan memberi stimulasi.

AKIBAT DIANGGAP BEBAN
Kalau anak sudah dianggap sebagai beban yang memberatkan, sangat mungkin orang tua melakukan tindak kekerasan terhadap anak. Itulah mengapa tindak kekerasan pada anak, baik secara fisik maupun nonfisik, umumnya merupakan indikator ketidaksiapan orang tua menerima kehadiran sang buah hati.
Kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa, menganiaya, atau memperlakukan anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan lewat anggota tubuh seperti tangan atau kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain. Beberapa tindakan yang dikategorikan sebagai tindak kekerasan fisik antara lain memukul, menjewer, dan menendang.

Sedangkan kekerasan nonfisik merupakan bentuk kekerasan yang melibatkan kata-kata, baik berupa ancaman atau kata-kata kasar atau yang tidak pantas. Tindakan ini bisa mengganggu atau menekan emosi anak sebagai korban. Secara kejiwaan, anak jadi tidak berani mengungkapkan pendapat, kelewat penurut dan terkondisikan sebagai sosok yang selalu bergantung. Akibatnya, anak dalam keadaan tertekan, takut, bahkan stres.

Dampak jangka panjangnya, anak akan merekam semua bentuk kekerasan yang pernah diterima/dialaminya. Besar kemungkinan anak akan tumbuh jadi pribadi yang agresif. Selanjutnya, kelak saat si anak jadi orang tua, bisa jadi ia akan menerapkan pola asuh berlandaskan kekerasan hingga terbentuk lingkaran setan yang tiada berujung.

AKIBAT DIANGGAP SUBORDINAT
Yang juga sering terjadi, orang tua menganggap anak sebagai subordinat alias bawahannya. Antara lain tampak dari pola asuh otoriter yang diterapkan pada anak. Anak dituntut untuk selalu mematuhi aturan yang diberlakukan orang tua. Protes merupakan perbuatan yang diharamkan, dan anak sama sekali tidak memiliki posisi tawar di hadapan orang tuanya. Anak diharuskan selalu mengalah pada orang tua dan tidak diperbolehkan melontarkan kritik terhadap apa pun yang dilakukan orang tua.

Akibatnya, muncul pemahaman bahwa anak selalu salah sementara orang tua tidak pernah salah. Tak heran kalau anak akan tumbuh menjadi pribadi yang apatis.

Anggapan anak sebagai subordinat juga membuat orang tua secara terus-menerus memosisikan anak sebagai bocah cilik atau sosok yang tidak dewasa. Anak tidak pernah dibiarkan tumbuh menjadi pribadi mandiri karena tidak mengenal budaya memilih. Ia terbiasa didikte tanpa pernah mendapat kesempatan untuk memilih. Selain menjadi apatis, sebaliknya bisa saja anak menjadi sosok yang selalu minta dilayani. Apa-apa selalu minta kepada orang tuanya. Semua yang diiinginkan tinggal teriak dan tunjuk pembantu.

Yang juga tak kalah menyedihkan, anak tidak pernah merasa dihargai pendapat dan usahanya. "Namanya juga anak-anak, tahu apa sih dia?" begitu yang selalu terlontar. Apa pun yang dilakukan anak dianggap tidak pernah sempurna. Padahal semestinya orang tua tetap memberi penghargaan. Saat anak membantu cuci piring, meski tidak sebersih hasil kerja orang tua, harusnya dipuji dan dihargai. Ingat, kemauan anak untuk membantu merupakan langkah awal menuju kemandirian.

DIANGGAP INVESTASI
Pemahaman lain yang kurang tepat akibat kurangnya wawasan adalah anggapan anak sebagai salah satu bentuk investasi. Jika orang tuanya petani, anak diibaratkan sebagai benih yang disebar di ladang luas. Setelah tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, si petanilah yang merasa berhak menikmati hasil panen. Memang tidak salah jika anak berkewajiban membantu orang tuanya. Bahkan agama pun menekankan pentingnya sikap berbakti kepada orang tua. Meski begitu, segala bentuk bantuan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak.

Seharusnya patut diingat bahwa anak juga mesti bertahan dalam mengarungi kehidupannya. Suatu saat ia akan membentuk keluarganya sendiri yang menjadi tanggung jawabnya. Pemahaman yang salah membuat beban tanggung jawab anak semakin berat. Selain harus memperjuangkan kehidupannya sendiri, ia pun mesti menanggung beban hidup orang tuanya.

PERSIAPAN MENTAL
Iya sih tidak semua keinginan manusia bisa dikabulkan karena semua terpulang pada Yang Maha Kuasa. Saat orang tua berharap tidak memiliki momongan dalam waktu dekat, kenyataan berbicara lain. Mau tidak mau orang tua mesti siap menerima keadaan tersebut. Nah, agar bisa siap menerima situasi dan kondisi apa pun, tak ada cara lain kecuali menambah wawasan tentang dunia anak lewat media apa saja. Bertanya kepada para pakar di bidangnya juga sangat dianjurkan agar orang tua semakin arif dalam mendidik putra-putrinya.

Memahami setiap tahapan perkembangan anak dan mengenali karakternya masing-masing akan sangat membantu orang tua dalam menerapkan pola asuh yang efektif bagi anak. Contoh konkretnya, ketika anak usia batita sering berlaku agresif, orang tua yang tidak paham mungkin akan langsung memarahi atau memberikan sanksi keras kepada si anak. Namun, tidak demikian halnya dengan orang tua yang sudah memahami tahapan perkembangan anak. Orang tua semacam ini bisa mengantisipasi sekaligus memberi arahan kepada si kecil. Kalaupun terpaksa menjatuhkan sanksi, pastilah sanksi yang diberikan bersifat mendidik.

Tidak hanya itu. Berbekal pemahaman dan wawasan luas, orang tua juga bisa mendeteksi berbagai gangguan dan kelainan yang muncul dalam diri anak. Ketika anaknya yang menjelang usia dua tahun belum juga bisa berjalan, orang tua akan segera mengeceknya dan berkonsultasi secara intens pada ahlinya mengapa hal itu bisa terjadi. Dari konsultasi itulah ia jadi tahu stimulasi seperti apa dan seberapa banyak porsi yang mesti diberikan kepada si anak.

4 Jurus Penangkal Kelemahan Ortu

4 JURUS PENANGKAL KELEMAHAN ORANG TUA
Oleh Muazar Habibi

Orang tua mana pun pastilah tak luput dari kekurangan dan kelemahan. Dengan menerapkan 4 jurus jitu, kelemahan bisa dikikis dan anak-anak pun bisa tumbuh optimal.

Kekurangan atau kelemahan orang tua tidak selayaknya dinilai dari kekurangan fisik yang ada. Kalau ayah atau ibu memiliki cacat fisik hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mengemban peran luhur dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Justru yang patut dinilai sebagai kelemahan, menurut Elly Risman Psi., selain ketidaksiapan orang tua adalah hal-hal yang berkaitan dengan tidak adanya kerja sama antara ayah dan ibu, perencanaan keluarga, pengetahuan mengenai perkembangan anak, dan penerapan moral-disiplin.

Coba deh ingat-ingat, biasanya saat akan melangsungkan pernikahan, calon pengantin justru lebih sibuk menyiapkan ini-itu yang bersifat material seperti pesta mewah dan segala perabot baru pengisi rumah mereka. Sebaliknya persiapan mental untuk mengarungi biduk rumah tangga seolah terabaikan. Semisal, "Siapkah aku menjadi seorang istri/suami?" atau "Apa saja yang harus kupersiapkan agar bisa menjadi ibu/bapak yang baik bagi anak-anakku?" Inilah 4 hal pokok yang harus diketahui agar kita bisa mengasuh anak secara optimal.

Kerja Sama Ibu-Ayah
Anak haruslah mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Untuk bisa mengemban tugas ini, ayah dan ibu mesti punya kepentingan bersama sekaligus mampu menjalin kerjasama yang solid bagi buah hati mereka. Itulah mengapa, ujar psikolog yang akrab disapa Elly ini, jauh sebelum anak lahir, calon ayah dan ibu sudah harus punya rumusan yang dipahami dan disanggupi oleh kedua belah pihak mengenai pendidikan, termasuk pola asuh yang akan diterapkan pada anak mereka.

Konkretnya, akan diarahkan ke mana si anak dan bagaimana caranya. Untuk bisa membuat rumusan pola asuh ini, jauh-jauh hari sebelumnya ayah dan ibu sudah harus punya persiapan mental disamping persiapan fisik.

Perencanaan Matang
Sama seperti poin sebelumnya, di sini tetap diperlukan kerja sama antara ibu dan ayah. Suami istri harus punya perencanaan, dari soal berapa jumlah anak yang diinginkan, sampai aspek biaya dan sarana serta prasarana penunjang yang harus disiapkan demi tercapainya cita-cita menjadikan anak tumbuh optimal. Perencanaan ini idealnya bukan baru dimunculkan saat si bayi lahir, melainkan jauh-jauh hari sebelumnya. Dalam perencanaan ini harus dimasukkan pula rencana untuk memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya kepada anak yang berarti menuntut penyediaan anggaran tertentu. 

Itulah mengapa, tandas Elly, tekad untuk mengarahkan anak berkembang secara optimal mau tidak mau menuntut orang tua tidak berpikiran sempit hanya terfokus pada dirinya sendiri. Semisal hanya mengutamakan perhiasan, perabot rumah atau membeli rumah dan kendaraan kedua atau malah ketiga. Lalu kalau semua benda tadi sudah didapat, masih sempatkah mencurahkan waktu sepenuhnya untuk memperhatikan anak-anak?

Pengetahuan Mengenai Perkembangan Anak
Orang tua harus melek pengetahuan mengenai perkembangan anak. Kalau tidak, mana bisa ia diharapkan mengenali tahapan-tahapan perkembangan yang dilalui anaknya. Salah-salah ayah atau ibu memperlakukan anak secara tidak patut. Padahal dalam mengemban tugas sebagai orang tua, dua faktor perkembangan anak yakni usia kalender dan keunikan jiwa masing-masing anak tidak boleh luput dari pengamatan ayah dan ibu.

Contohnya, orang tua membiarkan saja anak batitanya berlaku pasif karena asyik nonton teve seharian tanpa adanya pemberian stimulasi konkret yang seharusnya dapat mengasah kemampuannya. Entah itu kemampuan motorik, kognitif, ataupun afektif, dan kemampuan verbal. Orang tua bersikap demikian semata-mata karena menganggap anak seusia ini belum mengerti apa-apa. "Padahal usia 0 hingga 3 tahun merupakan masa-masa pesat pertumbuhan otak," ujar Elly.

Menurutnya, orang tua tidak bisa menutup mata terhadap tahap perkembangan anak, dari perkembangan otak, fisik, sampai perkembangan sosial yang harus mendapat stimulasi terus-menerus berdasarkan kemampuan di usianya. Bagaimana dan seberapa besar porsi stimulasi yang pas hanya bisa dicermati berdasarkan tahapan usia dan keunikan masing-masing individu. Contohnya adalah anak usia 12-18 bulan sudah harus bisa berjalan, di usia 4 tahun sudah bisa makan sendiri, dan di usia 6 tahun sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri. "Kalau ada orang tua yang masih menyuapi anak usia 6 tahun, itu namanya melecehkan kemampuan si anak. Kalau tindak pelecehan ini dilanjutkan, kapan anak bisa berkembang optimal?"

Elly menganjurkan agar orang tua tidak pernah merasa lelah untuk terus berburu pengetahuan mengenai perkembangan anak. Toh sumbernya bisa dari mana saja, baik buku, majalah, koran, tabloid, seminar, pertemuan informal, sampai internet. Anggapan bahwa kecerdasan hanya terpatok pada skor IQ saja paling tidak bisa dikoreksi. Lantas, pemahaman akan berbagai aspek kecerdasan akan mendorong orang tua untuk menggali segala potensi yang dimiliki anaknya.

Penerapan Moral dan Disiplin
Menurut Elly, sebetulnya ketidaktahuan/kekurangan orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap anak disebabkan minimnya awareness (kesadaran), knowledge (pengetahuan), attitude (sikap), dan practice (penerapan) atau AKAP. "Sekalipun orang tua harus berada di atas kursi roda, kalau dia memiliki AKAP, dia mampu kok menerapkan pola asuh yang benar agar perkembangan anaknya bisa optimal."

Lain soal kalau kekurangan tersebut mencakup aspek iman, mental, dan moral alias tidak menghadirkan Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. "Jangankan berkembang optimal, kekurangan di bidang ini sih jelas-jelas bisa menjerumuskan anak." Selain itu, kedisiplinan mesti ditanamkan sejak dini. Bila tidak, di usia 8 tahunan ke atas, giliran anaklah yang akan "menguji" orang tuanya karena di usia itu anak mulai memasuki tahap kritis sekaligus pemberontakan.

Elly mengingatkan bahwa penerapan disiplin sudah bisa dilakukan sejak anak masih bayi. Mulailah dari hal-hal yang sangat sederhana semisal membiasakan anak mandi, makan dan tidur tepat waktu, buang air besar dan kecil di tempat tertentu dan pada jam-jam tertentu, serta melatih anak membereskan mainannya setaip kali usai bermain.


Resep Komunikasi Efektif

RESEP KOMUNIKASI EFEKTIF
Oleh Muazar Habibi

Agar komunikasi orang tua nyambung dengan anak, perhatikan kepribadian dan kematangan berpikirnya.

Komunikasi yang efektif penting dalam kehidupan berkeluarga. Tampaknya semua orang sudah tahu itu. Masalahnya, tidak semua orang memahami bagaimana resep berkomunikasi yang efektif antara ayah dan ibu serta orang tua dan anak. Menurut Roslina Verauli, M.Psi., psikolog dari Empati Development Centre, Jakarta, komunikasi efektif berkaitan erat dengan pola asuh orang tua. Ia kemudian "meminjam" enam tipe komunikasi yang dikemukakan F. Philip Rice yang dikaitkan dengan pola asuh, yaitu: 

1. Tipe terbuka
Tipe ini paling sehat. Antara anak dan orang tua terjalin komunikasi saling terbuka. Orang tua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan dan pikirannya serta berdiskusi dengan orang tua. Tipe komunikasi ini ada pada pola asuh demokratis atau authoritative. Umpamanya, saat kedua orang tua sedang berbicara, mereka membolehkan anak menanggapi dan menghargai pendapatnya, "Oh, kalau menurut pendapat Adek seperti itu, ya?"

2. Tipe permukaan
Komunikasi yang terjalin bukan pada hal-hal penting; tidak riil, tidak detail dan sekadar basa-basi saja sebatas permukaan. Contohnya, anak bertanya, "Mama, kenapa sedih?" Orang tua hanya menjawab, "Ah, enggak apa-apa. Mama baik-baik saja, kok." Jadi di saat orang tua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan. Penyebabnya bisa perasaan takut mengecewakan, malu, dan sebagainya. Tipe ini biasanya ada pada pola asuh permisif atau indulgent.

3. Tipe mengabaikan (avoidance)
Masing-masing anggota keluarga saling menghindar sehingga tidak terjalin komunikasi. Hal ini bisa disebabkan hubungan orang tua yang tidak harmonis atau memang karena pribadi orang tua sendiri yang tidak terbuka terhadap anak, dan tidak peduli dengan kebutuhan komunikasi anak-orang tua. Tipe ini biasanya ada dalam pola asuh cuek atau neglectful. Sebenarnya tipe ini hampir sama dengan tipe permukaan. Hanya saja, pada tipe mengabaikan ini, cara bicara orang tua seringkali terbawa emosi. Misalnya orang tua bertanya dengan terburu-buru sambil hendak berangkat ke kantor. "Hai, sayang, apa kabar sekolahmu? Mama pergi dulu, ya."
"Baik-baik aja tuh," jawab anak.
"Kok, kamu menjawabnya seperti itu, sih? Mama kan tanya baik-baik."

4. Tipe komunikasi salah
Biasanya terjadi pada pola asuh otoriter. Orang tua cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan, orang tua langsung marah-marah. Akibatnya anak selalu takut berbuat salah. Jadi ketimbang kena damprat, maka anak mengambil jalan aman dengan berbohong. Misalnya, "Tadi, aku di sekolah dapat pujian lo Pa." Padahal mungkin saja kenyataannya tidak seperti itu. Anak selalu berusaha menceritakan yang bagus-bagus saja atau bicara seadanya. Contoh, "Bagaimana tadi di sekolah?"
"Baik kok, Ma," tanggap anak.  Pola asuh seperti ini bisa membuat anak jadi tertutup pada orang tuanya.

5. Tipe komunikasi satu arah
Tipe komunikasi satu arah terjadi jika dalam keluarga hanya ada satu figur dominan dalam berkomunikasi. Entah ayah atau ibu. Ia yang menentukan kapan anak boleh bicara dan tidak. Misalnya, "Adek, nanti kalau sudah makan, buat PR...."
Jika anak menyela, "Tapi, kan Ma,..."
"Eit diam! Mama kan belum habis bicara. Dengarkan..."
Tipe komunikasi ini bisanya juga terdapat pada pola asuh yang otoriter.

6. Tipe tanpa ada komunikasi
Antaranggota keluarga jarang terjadi pembicaraan meskipun sebetulnya di antara mereka tidak ada konflik nyata. Misalnya, orang tua pulang kantor masuk kamar. Anak pun demikian, pulang sekolah langsung mengunci kamar. Akibatnya orang tua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak. Ketiadaan komunikasi ini juga ada pada tipe pola asuh neglectful.

Pola Asuh Efektif

Pola Asuh EFEKTIF,
POLA ASUH PENUH CINTA
OLeh Muazar Habibi

Pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, jadi hati-hati dalam menerapkannya.
Apa, sih, pola asuh itu? Teorinya, menurut Theresia Indira Shanti, Psi.,Msi., pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Lebih jelasnya, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/panutan bagi anaknya.
Sayangnya pola asuh yang diterapkan orang tua tak selamanya efektif Malah terkadang dampaknya bagi si kecil bukannya baik tapi buruk. Pola asuh yang terlalu protektif atau memanjakan anak tentu menyebabkan anak menjadi tidak kreatif atau jadi selalu tergantung pada orang lain. Makanya perlu berhati-hati menerapkan pola asuh. Perlu diingat pula pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, baik dalam potensi sosial, psikomotorik, dan kemampuan afektifnya.

SYARAT POLA ASUH EFEKTIF
Jadi bagaimana pola asuh yang efektif itu? Menurut Shanti, pola asuh yang efektif bisa dilihat dari hasilnya. "Anak jadi paham kenapa harus begini atau begitu. Kenapa tak boleh ini-itu. Kelak, anak akan mampu memahami aturan-aturan di masyarakat secara lebih luas lagi. Misalnya, kalau ketemu orang harus menyapa atau bersalaman, " ujar psikolog dari Unika Atmajaya, Jakarta ini.
Nah, syarat paling utama pola asuh yang efektif adalah landasan cinta dan kasih sayang. Tapi bagaimana bentuknya? Berikut hal-hal yang bisa dilakukan orang tua demi menuju pola asuh efektif.

1. Pola asuh harus dinamis
Kenapa? Karena pola asuh harus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai contoh, penerapan pola asuh untuk anak batita tentu berbeda dari pola asuh untuk anak usia sekolah. Pasalnya, kemampuan berpikir batita kan masih sederhana, jadi pola asuh harus disertai komunikasi yang tidak bertele-tele dengan bahasa yang mudah dimengerti. "Adek enggak boleh memukul Eki, karena kalau dipukul itu sakit!"
Tapi anak usia SD pastilah tak mau lagi dianggap anak kecil yang bisa dilarang-larang. Jadi apa pun nilai-nilai yang ingin kita tanamkan mesti disertai dialog terbuka karena mereka sudah tak mudah didikte. Berikan alasan konkret.
"Kakak, kok, nonton teve terus?
"Lagi asyik nih Ma!'"
"Iya, Mama tahu, tapi kalau Kakak nonton terus, nanti PR-nya enggak selesai. Terus besok di sekolah bagaimana dong?"

2. Pola asuh harus Sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak
Ini perlu dilakukan karena setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Shanti memperkirakan saat usia satu tahun, potensi anak sudah mulai dapat terlihat. Umpamanya, kala si kecil mendengarkan alunan musik, dia kok tampak lebih tertarik ketimbang anak seusianya. Bisa jadi, ia memang memiliki potensi kecerdasan musikal. Nah, kalau orang tua sudah memiliki gambaran potensi anak, maka ia perlu diarahkan dan difasilitasi.
Selain pemenuhan kebutuhan fisik, orang tua pun mesti memenuhi kebutuhan psikis anak. Sentuhan-sentuhan fisik seperti merangkul, mencium pipi, mendekap dengan penuh kasih sayang, akan membuat anak bahagia sehingga dapat membuat pribadinya berkembang dengan matang. "Kebanyakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang, ternyata sewaktu kecil, ia mendapatkan kasih sayang dan cinta yang utuh dari orang tuanya. Artinya, kalau pola asuh orang tua membuat anak senang, tentu anak bisa berkembang secara optimal," ujar Shanti.

3. Ayah-ibu mesti kompak
Ayah dan ibu sebaiknya menerapkan pola asuh yang sama. Dalam hal ini, kedua orang tua sebaiknya "berkompromi" dalam menetapkan nilai-nilai yang boleh dan tidak. Jangan sampai orang tua saling bersebrangan karena hanya akan membuat anak bingung.

4. Pola asuh mesti disertai perilaku positif dari orang tua
Penerapan pola asuh juga membutuhkan sikap-sikap positif dari orang tua sehingga bisa dijadikan contoh/panutan bagi anaknya. Tanamkan nilai-nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Kelak diharapkan anak bisa menjadi manusia yang memiliki aturan dan norma yang baik, berbakti dan menjadi panutan bagi temannya dan orang lain.

5. Komunikasi Efektif
Bisa dikatakan komunikasi efektif merupakan sub-bagian dari pola asuh efektif. Syarat untuk berkomunikasi efektif sederhana kok, yaitu luang waktu untuk berbincang-bincang dengan anak. Jadilah pendengar yang baik dan jangan meremehkan pendapat anak. Bukalah selalu lahan diskusi tentang berbagai hal yang ingin diketahui anak. Jangan menganggap usianya yang masih belia membuatnya jadi tak tahu apa-apa. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran, masukan, atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah dan dapat mengembangkan potensinya dengan maksimal.

6. Disiplin
Penerapan disiplin juga menjadi bagian pola asuh. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, membereskan kamar sebelum berangkat sekolah atau menyimpan sesuatu pada tempatnya dengan rapi. Lantaran itu, anak pun perlu diajarkan membuat jadwal harian sehingga bisa lebih teratur dan efektif mengelola kegiatannya. Namun, penerapan disiplin mesti fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan/kondisi anak. Anak dengan kondisi lelah, umpamanya, jangan lantas diminta mengerjakan tugas sekolah hanya karena saat itu merupakan waktunya untuk belajar.

7. Orang tua Konsisten
Orang tua juga bisa menerapkan konsistensi sikap, misalnya anak tak boleh minum air dingin kalau sedang terserang batuk. Tapi kalau anak dalam keadaan sehat ya boleh-boleh saja. Dari situ ia belajar untuk konsisten terhadap sesuatu. Yang penting setiap aturan mesti disertai penjelasan yang bisa dipahami anak, kenapa ini tak boleh, kenapa itu boleh. Lama-lama, anak akan mengerti atau terbiasa mana yang boleh dan tidak. Orang tua juga sebaiknya konsisten. Jangan sampai lain kata dengan perbuatan. Misalnya, ayah atau ibu malah minum air dingin saat sakit batuk. 

Tips Menjadi Ortu Ideal

TIPS MENJADI ORANG TUA IDEAL
Oleh Muazar Habibi

SEHUBUNGAN dengan pola asuh yang baik, Clara menyarankan beberapa hal berikut yang dapat digunakan orang tua untuk mempererat hubungannya dengan anak.

* Menyediakan waktu untuk anak
Komunikasi yang baik memerlukan waktu yang berkualitas dan ini yang kadang tidak dipikirkan oleh orang tua. Tak sedikit orang tua yang meyakini bahwa yang penting adalah kualitas bukan kuantitas. Padahal dalam hal komunikasi, kuantitas juga diperlukan. Bila orang tua bisa memberikan waktu yang berkualitas bagi anaknya, maka itu berarti ia sudah mengasihi dan memperhatikan anaknya.

* Berkomunikasi secara pribadi
Jangan tunggu sampai anak bermasalah. Setiap kali ada kesempatan, manfaatkan momen tersebut untuk mengajak anak bicara. Bicara di sini tidak sekadar basa-basi menanyakan apa kabarnya hari ini. Akan tetapi sebaiknya orang tua juga bisa menyelami perasaan senang, sedih, marah maupun keluh kesah anak.

* Menghargai anak
Hargai keberadaan anak. Jangan hanya menganggapnya sebagai anak kecil. Kalaupun sedang bicara dengan anak, posisikan dirinya sebagai sosok yang dihargai dan sederajat. Dalam beberapa hal tertentu ada yang lebih diketahui anak ketimbang orang tua. Jadi ada baiknya orang tua pun belajar untuk menghargai dan mendengarkan pendapat anaknya.

* Mengerti anak
Dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua sebaiknya berusaha untuk mengerti dunia anak, memandang posisi mereka, mendengarkan apa ceritanya dan apa dalihnya. Mengenali apa yang menjadi suka dan duka, kegemaran, kesulitan, kelebihan, serta kekurangan mereka.

* Menciptakan hubungan yang baik
Hubungan yang erat dapat mempersempit jurang pemisah antara orang tua dan anak. Dengan demikian anak mau bersikap terbuka dengan menceritakan seluruh isi hatinya tanpa ada yang ditutup-tutupi di hadapan orang tua.

* Berikan sentuhan/kedekatan fisik dan kontak mata
Usahakan setiap hari untuk menyentuh, melakukan kontak mata dan kedekatan fisik dengan anak. Anak akan merasakan kasih sayang dan kehangatan orang tua bila ayah atau ibu mau melakukan hal-hal tersebut.

* Dengarkan anak
Orang tua sebaiknya belajar untuk menjadi pendengar aktif bagi anaknya. Dengan demikian anak akan tahu bahwa orang tua mampu memahaminya seperti yang mereka rasakan. Bukan seperti yang dilihat atau disangka orang tuanya. Cara ini akan membuat anak merasa penting dan berharga. Selain itu anak akan belajar untuk mengenali, menerima, dan mengerti perasaan mereka sendiri, serta menemukan cara untuk mengatasi masalahnya.

Mengenal Tipe Pola Asuh

MENGENAL TIPE POLA ASUH ORANGTUA
4 TIPE POLA ASUH ORANG TUA
Oleh Muazar Habibi

Menjadi orang tua memang tidak gampang. Sekolahnya pun tidak ada. Namun begitu, bagaimanapun Anda bersikap terhadap anak, implementasinya bisa digolongkan dalam 4 tipe pola asuh. Termasuk orang tua bagaimanakah Anda?
Pada dasarnya orang tua menginginkan anaknya untuk tumbuh menjadi orang yang matang dan dewasa secara sosial. Sehingga apa pun jenis pengasuhan yang diterapkan orang tua pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai hal tersebut. Namun, kadang orang tua tidak menyadari bahwa pola pengasuhan tertentu dapat membawa dampak merugikan bagi anak. Menurut seorang pakar psikologi, Diana Baumrind, ada empat jenis pola pengasuhan, yaitu otoriter, authoritative, neglectful dan indulgent. Kalau Anda ingin tahu termasuk yang mana, simak penjelasannya berikut. 

OTORITER YANG MEMAKSA

POLA ASUH OTORITER, adalah pengambilan sikap atau keputusan yang sangat memaksa dari orangtua yang ingin diterapkan kepada anak-anaknya. Pola asuh ini biasanya dengan embel-embel “pokok-nya”, artinya apa yang diucapkan dan diinginkan oleh orangtua harus dipenuhi oleh anak tanpa adanya kompromi lagi, karena orangtua beranggapan bahwa apa yang “diperintahkan” kepada anak sejatinya adalah sebuah kebenaran dan harus dilakukan dan dituruti oleh anak.
Pola otoriter adalah pengasuhan yang kaku, diktator dan memaksa anak untuk selalu mengikuti perintah orang tua tanpa banyak alasan. Dalam pola asuh ini biasa ditemukan penerapan hukuman fisik dan aturan-aturan tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan di balik aturan tersebut.
Orang tua mungkin berpendapat bahwa anak memang harus mengikuti aturan yang ditetapkannya. Toh, apa pun peraturan yang ditetapkan orang tua semata-mata demi kebaikan anak. Orang tua tak mau repot-repot berpikir bahwa peraturan yang kaku seperti itu justru akan menimbulkan serangkaian efek.
Pola asuh otoriter biasanya berdampak buruk pada anak, seperti ia merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif, selalu tegang, tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk), begitu juga kemampuan komunikasinya yang buruk.

NEGLECTFUL SI CUEK
(terserah loe aja…)
POLA ASUH NEGLECTFUL ATAU PERMISIF, sangat berbeda dengan OTORITER. orang tua yang mempunyai pola asuh neglectful, maka apa pun yang terjadi, terjadilah tanpa orang tua menaruh peduli sama sekali. Dalam bahasanya terserah loe aja nak….apapun yang dilakukan oleh orangtua, orangtua memperbolehkannya. Biasanya orangtua seperti ini kalau ia harus berangkat kerja saat itu, ya ia tetap berangkat ke kantor, tanpa peduli anak akan menentukan pilihan yang mana. Dalam bahasa sederhananya tipe ini adalah tipe orang tua yang permisif alias serba membolehkan.
Pola neglectful adalah pola dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula pusing-pusing memedulikan kehidupan anaknya. Jangan salahkan bila anak menganggap bahwa aspek-aspek lain dalam kehidupan orang tuanya lebih penting daripada keberadaan dirinya. Walaupun tinggal di bawah atap yang sama, bisa jadi orang tua tidak begitu tahu perkembangan anaknya.
Pola asuh seperti ini tentu akan menimbulkan serangkaian dampak buruk. Di antaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya. Bukan tidak mungkin serangkaian dampak buruk ini akan terbawa sampai ia dewasa. Tidak tertutup kemungkinan pula anak akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak. Akibatnya, masalah menyerupai lingkaran setan yang tidak pernah putus.

INDULGENT TIDAK PUNYA POSISI TAWAR

Ida, tadi malam tidurnya larut malam karena ia nonton TV program kesukaannya, sehingga pagi ini Ida terlambat bangun dan ia tidak mau berangkat kesekolah.  KIRA-KIRA seperti ini yang akan dikatakan orang tua yang tidak punya posisi tawar, "Ya sudah, Ida boleh enggak sekolah. Kamu lagi malas sekolah ya?" Kalau Ida mau menonton televisi saja di rumah, orang tua akan berkata, "Ya sudah, daripada menangis terus, kamu nonton teve saja deh." Begitu seterusnya. Kata-kata seperti itu akan sering diucapkan oleh orang tua yang mempunyai pola asuh indulgent.

Pola indulgent sebetulnya menjadi istilah bagi pola asuh orang tua yang selalu terlibat dalam semua aspek kehidupan anak. Namun di situ tidak ada tuntutan dan kontrol dari orang tua terhadap anak. Mereka cenderung membiarkan anaknya melakukan apa saja sesuai dengan keinginan mereka. Dalam bahasa sederhananya, orang tua akan selalu menuruti keinginan anak, apa pun keinginan tersebut. Bahkan orang tua jadi tidak punya posisi tawar sama sekali di depan anak karena semua keinginannya akan dituruti, tanpa mempertimbangkan apakah itu baik atau buruk bagi si anak," tandas Clara.

Banyak orang tua yang menerapkan pola asuh ini berkilah bahwa sikap yang diambilnya didasari rasa sayangnya terhadap anak. "Cinta saya pada si kecil kan cinta yang tidak bersyarat. Jadi, apa pun yang diminta anak akan saya turuti." Padahal yang namanya cinta, pada siapa pun, termasuk pada anak, tidak identik dengan keharusan menuruti semua keinginannya.

Akibat buruk yang harus diterima anak sehubungan dengan pola asuh orang tua yang seperti ini jelas tidak sedikit. Di antaranya anak jadi sama sekali tidak belajar mengontrol diri. Ia selalu menuntut orang lain untuk menuruti keinginannya tapi tidak berusaha belajar menghormati orang lain. Anak pun cenderung mendominasi orang lain, sehingga punya kesulitan dalam berteman. 

AUTHORITATIVE MEMBERIKAN PILIHAN
(demokratis gitu lho…)

APAKAH Anda termasuk orang tua yang akan memilih langkah seperti ini? "Jadi Aad maunya gimana? Kalau mau makan nonton TV dulu sebelum mandi, oke Papa kasih waktu 5 menit, tapi setelah itu kamu harus segera mandi dan berangkat sekolah." Anak boleh memilih melakukan apa yang menurutnya baik, tetapi tetap harus ada batasan apa yang seharusnya dilakukan. Pola asuh seperti ini dikategorikan sebagai pola asuh authoritative. Dalam bahasa lainnya disebut pola asuh demoktris.

Pola authoritative mendorong anak untuk mandiri, tapi orang tua tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan anak yang konstruktif.

Anak yang terbiasa dengan pola asuh authoritative akan membawa dampak menguntungkan. Di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi baik dengan teman-teman dan orang dewasa.
Dengan adanya dampak positif tersebut, pola asuh authoritative adalah pola asuh yang bisa dijadikan pilihan bagi orang tua. "Beri anak kesempatan bicara tetapi kontrol sepenuhnya tetap di tangan orang tua," tambahnya.

Stimulasi Kecerdasan Anak

Stimulasi Untuk Optimalkan Potensi Kecerdasan Si Kecil
Oleh Muazar Habibi

 Tahun-tahun pertama anak termasuk golden period bagi perkembangan otaknya. Di masa ini informasi akan tertanam kuat dalam dirinya. Bahkan menurut psikolog perkembangan anak, Felicia Irene, M.Psi, akan mempengaruhi sikap dan filosofi hidupnya kelak. Karena pada masa ini anak memiliki konsentrasi 100 persen dalam ingatannya saat menerima informasi, seperti kertas putih.


Jika seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar di usia dini, maka perkembangan otaknya pun akan berlangsung di bawah rata-rata. Kemampuan logika, bahasa, dan menyelesaikan masalahnya menjadi terbatas. Sebab perkembangan otak anak di usia dini hanya mengandalkan eksposur yang diulang sebagai stimulus. Craig dan Sharon Ramey, Direktur Civitan International Research Center, University of Alabama dalam bukunya Right From Birth memaparkan, metode dan stimulasi sangat memperngaruhi perkembangan otak secara optimal.

Keberhasilan dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan anak memerlukan pastisipasi orangtua sejak dini dengan melakukan praktik komunikasi di rumah, kegiatan fisik bersama, dan mendongeng. Kerja otak tak hanya terasah, tapi kemampuan verbal dan indera geraknya pun terlatih. Latihan motorik juga diyakini baik untuk meningkatkan kerja otak pada tahun pertama pertumbuhan anak, khususnya kegiatan yang aktif menggunakan tangan.

Elly Risma Musa, psikolog dari Universitas Indonesia, berpendapat setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Ia menyebutkan, terdapat sembilan potensi kecerdasan yaitu serdas kata, cerdas sosial, cerdas diri, cerdas gerak, cerdas gambar, cerdas hidup, cerdas spiritual, cerdas alam dan cerdas angka. ”Kemampuan dan kecerdasan tersebut, terletak di bagian otak yang berbeda, tinggal bagaimana orangtua dapat mengasah kerja otak tersebut, bukan sebaliknya,” paparnya. Kecerdasan anak, tambah Elly, tidak hanya bersumber dari pemenuhan nutrisi seimbang, tetapi juga disertai pemberian stimulasi pada anak. Berikut beberapa kegiatan stimulasi yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan potensi kecerdasan anak.

Bernyanyi
Menyanyi bersama dapat menghibur anak sekaligus membantu perkembangan kreativitasnya. Karena lirik lagu dapat membantu mengembangkan daya ingat dan bahasanya.


Bersajak
Berdasarkan penelitian di Universitas Oxford, Inggris, semakin sering anak mendengarkan sajak maka semakin cepat anak mengerti kata-kata. Bersajak disertai gerakan tubuh mendidik anak berkomunikasi dan berekspresi.


Baca
Kebiasaan membacakan dongeng sebelum tidur dapat membantu anak mengembangkan daya ingat dan perbendaharaan katanya. Salah satu pengamatan menunjukkan, anak berumur 2 tahun yang terbiasa dengan hal tersebut, terbukti dapat mengerti kata-kata sulit tiga kali lipat dibandingkan anak lain yang tidak memiliki kebiasaan demikian.


Membahas Cerita
Saat Anda membacakan buku, tanyakan pendapat anak mengenai gambar, karakter dan alur ceritanya. Hal ini dapat mengukur tingkat pemahaman anak pada cerita.


Berhitung
Tumpukan piring, buku atau baju bisa menjadi inspirasi untuk mengajak anak berhitung. Awalilah pengenalan konsep matematika sederhana dengan permainan mencocokkan, memilah dan melatih anak memahami konsep warna dan bentuk.


Bermain
Waktu bermain bersama teman-teman adalah kesempatan bagi anak untuk menyalurkan kreativitas dan energinya. Anak juga dapat memahami konsep berbagi dan peraturan permainan. Bermain juga efektif menghilangkan stres dan trauma pada anak.


Berikan Semangat
Berikan dukungan jika mereka berhasil menemukan hal baru dan jangan paksa anak untuk mengetahui hal yang belum jadi ketertarikannya. Perkembangan otak terbaik adalah ketika mereka mencari dan menelitinya sendiri.


Mengenal Kecerdasan Anak

MENGENAL KECERDASAN ANAK
Oleh Muazar Habibi
Stimulasi Dini pada Bayi dan Balita
Untuk Mengembangkan Kecerdasan Multipel dan Kreativitas Anak

Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?

Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical (kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah), visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak, menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada, melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri), interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain), naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?

Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh lingkungan terus menerus.

    Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan balita. Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas, mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja.

Apa kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?

Tiga kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik), EMOSI-KASIH SAYANG (mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal) dan STIMULASI DINI (merangsang kecerdasan-kecerdasan lain).

    Kebutuhan FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai remaja terutama untuk perkembangan otak, pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

    Kebutuhan EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi, menimbulkan rasa aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang. Kebutuhan STIMULASI meliputi rangsangan yang terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.

    Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan sejak janin didalam kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila kebutuhan biofisik tidak tercukupi, gizinya kurang, sering sakit, maka perkembangan otaknya tidak optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan antar personal juga rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan kecerdasan juga kurang bervariasi.

Apa itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik), kecerdasan musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.

Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita. misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur.

    Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

    Umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

    Umur 6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

    Umur 9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.

    Umur 12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

    Umur 18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana - baju, bermain melempar bola, melompat.

    Umur 2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

    Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.

Pentingnya suasana ketika stimulasi
 

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

    Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)

Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Mengapa stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.

    Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?

Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.

    Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

    Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan komputer dll.

    Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari, olahraga permainan dll.

    Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada.

    Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerjasama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.

    Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.

    Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai, pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.

    Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak kita akan mempunyai kecerdasan yang multipel.


Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Bagaimana peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik), yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua paling benar, atau melecehkan pendapat anak

    Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan atau merugikan oranglain atau diri sendiri). Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu tanyakan mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.

    Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting pengembangan kreativitas anak.

    Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian disekeliling kita, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus menjawab dengan cara menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak, melarang atau menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

    Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna biru. Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak. Berilah kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan atau pujian untuk mencoba suatu gagasan, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

    Semua hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen (meluas), intuitif (berdasarkan intuisi), abstrak, bebas, simultan.

Ringkasan 
  1. Jika menginginkan anak dengan kecerdasan multipel harus dilakukan perangsangan sejak bayi setiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan), dengan mengajak berbicara, bermain untuk merangsang perasaan dan pikiran, merangsang gerak kasar dan halus pada leher, tubuh, kaki, tangan dan jari-jari.
     
  2. Cara melakukan stimulasi harus disesuaikan dengan umur dan tahapan tumbuh -kembang anak. Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita, misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur, atau kapanpun dan dimanapun ketika anda dapat berinteraksi dengan balita anda. Selanjutnya dapat ditambah melalui Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak dan sejenisnya.
       
  3. Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, yaitu pola asuh yang otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.
  4. Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak.
    Dengarkan omongan anak, dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak, jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau melecehkan pendapat anak.
    Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun.
    Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak, jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

PETUNJUK MENU
gif maker
http://www.picasion.com/